Beranda » DEKARINDO: INDONESIA TERANCAM KEHILANGAN POSISI SEBAGAI PRODUSEN KARET DUNIA — INI BUKAN KRISIS BIASA
Posted in

DEKARINDO: INDONESIA TERANCAM KEHILANGAN POSISI SEBAGAI PRODUSEN KARET DUNIA — INI BUKAN KRISIS BIASA

DEKARINDO

Jakarta, 7 Mei 2026 — Pernyataan keras datang dari Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (DEKARINDO), A. Aziz Pane, dalam forum “Bincang Karet Bareng APKARINDO Episode 2” yang digelar Kamis (7/5/2026). Menurutnya, Indonesia sedang berjalan menuju jurang kehilangan identitasnya sebagai negara penghasil karet utama dunia dan pemerintah belum sepenuhnya menyadari bahaya itu.

“Karet adalah komoditas yang ikut membiayai kemerdekaan Indonesia. Hasil kebun karet rakyat dahulu digunakan untuk membeli senjata perjuangan. Tapi hari ini, negara seolah melupakan jasa besar komoditas ini,” tegas Aziz dalam forum yang diikuti 69 peserta dari kalangan petani, akademisi, asosiasi, Pusat Penelitian Karet, dan perwakilan Kementerian Pertanian.

Produksi Anjlok Separuh dalam Delapan Tahun

Aziz memaparkan data yang seharusnya menjadi alarm nasional: produksi karet Indonesia yang pada 2017 mencapai sekitar 3,6 juta ton, kini di tahun 2025 hanya tersisa sekitar 2,2 juta ton. Penurunan hampir 40 persen dalam kurun delapan tahun.

“Kalau tren ini terus dibiarkan, dalam 10 tahun ke depan Indonesia bisa memproduksi di bawah 1 juta ton. Itu bukan krisis biasa, itu kehancuran,” ujarnya.

Sementara Indonesia terus merosot, para pesaing justru berlari. Thailand terus meningkatkan produksi, Vietnam semakin kompetitif, dan negara-negara Afrika tumbuh dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Indonesia, kata Aziz, kini terancam tersalip oleh Vietnam, Pantai Gading, dan negara-negara Afrika yang selama ini dianggap bukan pemain utama.

Konversi Kebun Karet: Ancaman yang Datang dari Dalam

Tak hanya tekanan eksternal, Aziz juga menyoroti ancaman yang justru datang dari kebijakan dalam negeri sendiri: rencana konversi 2,71 juta hektare kebun karet menjadi perkebunan kelapa sawit.

DEKARINDO menilai kebijakan ini kontraproduktif dan telah mengambil langkah aktif untuk menolaknya, termasuk komunikasi langsung dengan DPR dan advokasi kepada pemerintah.

“92 persen produksi karet nasional berasal dari petani rakyat. Kebijakan apapun yang melemahkan kebun petani berarti menghancurkan tulang punggung industri ini sendiri,” kata Aziz.

Indonesia Kalah Riset dari Negara yang Lebih Kecil

Salah satu kritik paling tajam yang disampaikan Aziz adalah soal ketertinggalan riset dan teknologi karet Indonesia. Ia menyebutkan Thailand dan Malaysia sudah memiliki universitas khusus yang fokus mengembangkan teknologi perkaretan, sementara Indonesia belum memiliki ekosistem riset yang setara.

“Kita produsen terbesar kedua dunia, tapi kalah riset dari negara yang produksinya jauh di bawah kita. Ini ironi yang menyakitkan,” ujarnya.

Ia juga mengkritik perubahan BPPT menjadi BRIN yang dinilai justru melemahkan kapasitas inovasi terapan, padahal industri karet membutuhkan solusi teknologi yang bisa langsung diaplikasikan di lapangan.

Masa Depan Karet Lebih Luas dari yang Kita Kira

Di tengah nada kritisnya, Aziz justru menekankan bahwa prospek karet alam secara global sangat besar dan Indonesia belum memanfaatkannya secara optimal.

Ia menunjukkan bahwa karet alam kini digunakan dalam industri teknologi tinggi, industri film, sektor luar angkasa, hingga elektronik. Nama-nama besar seperti Elon Musk dan industri manufaktur global lainnya bergantung pada karet alam dalam rantai produksi mereka.

“Manusia modern tidak mungkin hidup tanpa karet. Ini bukan komoditas masa lalu, ini komoditas masa depan. Yang perlu kita ubah adalah cara kita mengelolanya,” tegas Aziz.

Ia mendorong Indonesia untuk serius mengembangkan industri hilir: mulai dari rubber road (aspal karet), daur ulang limbah ban, pemanfaatan carbon black, hingga energi berbasis limbah karet sektor-sektor yang hingga kini masih sangat minim digarap.

dekarindo

DEKARINDO Dukung BPDP Karet sebagai Langkah Awal

Atas semua tantangan itu, DEKARINDO menyatakan dukungan penuh terhadap pembentukan BPDP Karet sebagai langkah pertama menuju Badan Karet Nasional yang lebih komprehensif.

Menurut Aziz, BPDP Karet dirancang untuk membiayai peremajaan kebun, riset, peningkatan SDM, promosi internasional, dan hilirisasi. Ia menyampaikan bahwa perjuangan untuk memasukkan karet ke dalam skema BPDP sudah mulai menunjukkan hasil, namun implementasi masih memerlukan tekanan politik dan regulasi yang kuat.

“Karet adalah komoditas masa depan. Tapi tanpa kelembagaan yang kuat, tanpa riset yang serius, dan tanpa keberpihakan negara, potensi itu akan terus menjadi potensi yang tidak pernah terwujud,” pungkasnya.

Tentang DEKARINDO Dewan Karet Indonesia (DEKARINDO) adalah organisasi payung sektor karet nasional yang menghimpun asosiasi dari hulu hingga hilir, termasuk APKARINDO, GAPKINDO, perusahaan ban, industri sarung tangan karet, industri alas kaki, vulkanisir, dan Pusat Penelitian Karet.

Informasi lebih lanjut tentang APKARINDO dan perjuangan petani karet Indonesia: www.apkarindo.org | @apkarindo.official

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share