
Foto : APKARINDO
Lebak, BANTEN– Di tengah udara hangat kawasan industri Lebak, rombongan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Karet Indonesia (APKARINDO) mendatangi kompleks pabrik PT Nusa Alam Rubber pada Jumat, 12 Desember 2025. Dipimpin Ketua Harian, Arif Susanto, dan Sekjen DPP APKARINDO, Adi Purnama, kunjungan ini dirancang sebagai ruang dialog langsung antara pengurus pusat APKARINDO dan manajemen pabrik industri crumb rubber yang menjadi salah satu penopang hilir karet rakyat.
Suasana audiensi di jantung pabrik
Rombongan pengurus DPP APKARINDO disambut oleh Alvin Hans Wijaya, Director of Operations PT Nusa Alam Rubber, bersama Mohan selaku Factory Manager pabrik crumb rubber di Lebak. Di ruang pertemuan yang berhadapan dengan area produksi, perbincangan mengalir hangat; manajemen pabrik memaparkan situasi terkini industri karet, sementara APKARINDO menyajikan perspektif dan aspirasi petani karet yang mereka wakili.
Industri karet yang “tidak baik-baik saja”
Dalam pemaparannya, Mohan menggambarkan 2025 sebagai tahun penuh tekanan bagi industri karet, dengan banyak pabrik di berbagai daerah terpaksa mengurangi aktivitas bahkan menghentikan operasi. Di PT Nusa Alam Rubber, kapasitas terpasang yang dirancang untuk mengolah sekitar 2.000 ton per hari saat ini baru bisa dimanfaatkan untuk mengolah sekitar 1.500 ton, karena bahan baku berkualitas yang memenuhi standar pabrik semakin sulit didapatkan.
Persoalan bokar yang diterima bukan hanya pada volume, tetapi juga mutu: masih sering dijumpai bokar kotor dengan banyak campuran, sehingga memanjangkan proses pembersihan dan pengolahan sebelum masuk ke lini produksi utama. Ketika kadar karet kering tidak stabil dan cenderung menurun, biaya proses meningkat, sementara harga yang diterima petani karet ikut terdampak karena penurunan taksiran mutu.
Beban overheat di sisi hilir
Alvin menambahkan bahwa tekanan yang dirasakan pabrik bukan hanya berasal dari masalah pasokan bahan baku dan penyesuaian kapasitas produksi. Di sisi hilir, perusahaan tetap harus menanggung kewajiban rutin seperti pajak, bunga bank, pemeliharaan fasilitas, dan gaji karyawan yang menopang operasi pabrik sehari-hari.
Ketika bahan baku berkurang dan kualitas menurun, beban tetap tersebut menjadi terasa semakin berat karena tidak tertopang oleh output produksi yang ideal. Penyesuaian pola kerja, pengaturan ulang jadwal produksi, serta efisiensi penempatan karyawan menjadi keniscayaan, namun semua itu tetap memiliki batas agar mutu produk crumb rubber tetap terjaga.
Momentum peran APKARINDO di tengah tekanan
Bagi DPP APKARINDO, audiensi di Lebak ini menegaskan kembali mandat asosiasi sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan industri crumb rubber akan karet berkualitas dengan kepentingan petani karet untuk memperoleh harga yang adil. APKARINDO memandang bahwa perbaikan kualitas bokar – mulai dari praktik penyadapan, penanganan di kebun, hingga penggunaan bahan pembeku yang standar – adalah kunci agar nilai tambah yang tercipta di pabrik dapat lebih dirasakan petani karet.
Melalui jaringan kepengurusan di berbagai provinsi, DPP APKARINDO berkomitmen untuk mendorong edukasi berkelanjutan kepada petani karet mengenai pentingnya kualitas, kebersihan, dan konsistensi kadar karet alam yang disuplai ke pabrik. Kunjungan ke PT Nusa Alam Rubber ini menjadi salah satu langkah konkret untuk menyelaraskan ekspektasi industri karet dengan realitas di tingkat petani.
REMBUG TANI sebagai ruang dialog baru
Dalam sesi diskusi, Ketua Harian APKARINDO Arif Susanto menyampaikan bahwa kepengurusan APKARINDO di seluruh Indonesia tengah memperkuat konsolidasi dan menyiapkan agenda REMBUG TANI untuk petani karet dalam enam bulan ke depan. REMBUG TANI direncanakan menjadi ruang dialog dua arah: industri dapat menjelaskan standar mutu dan kebutuhan pasarnya, sementara petani menyampaikan tantangan di lapangan, termasuk akses sarana produksi dan pola tataniaga yang belum sepenuhnya berpihak.
Dari forum tersebut diharapkan lahir program-program prioritas seperti kampanye karet bersih, promosi bahan pembeku yang ramah lingkungan dan tidak menurunkan kadar bokar, serta skema kemitraan yang lebih transparan antara petani karet dan pabrik. Bagi DPP APKARINDO, rangkaian program ini merupakan instrumen untuk mengangkat kembali posisi petani karet sebagai pilar penting dalam rantai pasok karet nasional.
Mengurai benang kusut tata niaga karet Nasional
Menjelang akhir audiensi, diskusi mengerucut pada isu tata niaga karet Nasional yang masih dinilai belum mendapat prioritas yang memadai dalam kebijakan pemerintah, sementara tekanan pasar global terus membayangi. Arif Susanto dan Sekjen Adi Purnama menyampaikan sejumlah gagasan untuk memperbaiki tata kelola rantai pasok, mulai dari penguatan kelembagaan petani hingga pola kemitraan yang lebih seimbang antara pabrik dan pemasok bokar rakyat.
Beberapa bentuk kerja sama antara DPP APKARINDO dan PT Nusa Alam Rubber dibicarakan dan diharapkan dapat mulai dieksekusi pada awal 2026, dengan fokus pada peningkatan kualitas bokar dan penguatan posisi tawar petani karet. Kunjungan ini meneguhkan tekad DPP APKARINDO bahwa jalan keluar dari tekanan industri karet hanya dapat ditempuh melalui kolaborasi yang jujur dan berkelanjutan antara petani karet, industri crumb rubber, dan pemangku kebijakan.
Menutup dengan jejak di lantai produksi
Agenda audiensi diakhiri dengan factory visit ke berbagai instalasi pengolahan karet di kompleks PT Nusa Alam Rubber, mulai dari area penerimaan bokar hingga lini pengolahan crumb rubber. Rombongan DPP APKARINDO menyaksikan langsung bagaimana kualitas dan kebersihan bokar pada tahap awal sangat menentukan efisiensi proses, biaya, dan daya saing produk akhir di pasar ekspor.
Bagi DPP APKARINDO, jejak langkah di rantai produksi ini menjadi pengingat bahwa setiap perbaikan kecil di kebun – dari cara menyadap hingga manajemen pengiriman bokar – dapat berkontribusi besar bagi keberlanjutan industri karet nasional. Dan dari Lebak, Banten, DPP APKARINDO membawa pulang satu pesan penting: petani dan industri tidak bisa berjalan sendiri-sendiri; keduanya harus berjalan beriringan agar karet Indonesia kembali berdaya saing.
okt/
